Kamis, 31 Januari 2019

Seminar Manajemen Keuangan

MATERI SEMINAR MANAJEMEN
KEUANGAN
(PENILAIAN SAHAM)



ANALISIS SAHAM
Investor harus memahami beberapa hal apabila ingin memasuki dunia pasar modal, yaitu : 1. Seluk-beluk berdagang saham, 2. memilih broker, 3. memilih saham, 4. mengestimasi harga saham.
1.      SELUK BELUK BERDAGAM SAHAM
Seluk beluk bedagang meliputi, tujuan investasi, diversifikasi keuangan, tipe investor, pembukaan rekening dan rekening efek, penempatan dan pemantauan order (monitoring)
·         Tujuan investasi
Setiap investor pastinya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan capital gein, yaitu selisih positif  antara harga juan dan harga beli saham dan deviden tunai yang diterima dari emiten kepada perusahaan karena memperoleh keunungan.
·         Diversifikasi keuangan
Investasi saham di samping mengandung resiko yang besar tetapi juga menawarkan keuntungsn yang menggiurkan. Invertasi merupakan sarana untuk mencapai kemakmuran bukan kehancuran, sehingga investor harus pandai mengatur perencanaan keuangannya.
·         Tipe investor
A.    Tidak senang risiko (risk averse).
Investor jenis ini adalah investor yang tidak senang terhadap risiko. Tentunya, ia memiliki konsekuensi tidak dapat mengharapkan tingkat return yang terlalu tinggi juga. Investor jenis ini biasanya sangat mengutamakan tingkat keamanan investasinya dibandingkan dengan tingkat return yang ditawarkan oleh suatu produk investasi.
Biasanya investor ini masih nienggunakan perbankan sebagai sarana investasi mereka atau investasi di SBI atau obligasi pemerintah.
B.     Netral terhadap risiko (risk neutral).
Investor jenis ini adalah investor yang cukup menerima adanya risiko, tetapi tidak akan mau mengambil risiko lebih untuk mencoba mendapatkan tingkat return yang lebih tinggi. Tingkat return yang mereka harapkan biasanya lebih tinggi daripada investor yang risk averse, dan tentunya mereka juga telah memiliki risiko minimal yang dapat diterima.
Biasanya, investor ini selain di perbankan juga sudah berani bermain di jenis investasi reksadana; pasar uang; jenis asuransi yang aman, seperti asuransi jiwa, kesehatan, dan umum; maupun obligasi perusahaan pemerintah.
C.     Menyukai risiko (risk seeker).
Investor jenis ini biasanya telah mengerti bahwa return yang tinggi akan diikuti dengan tingkat risiko yang tinggi pula. Mereka sudah berani mencoba mengambil kesempatan dan juga berinvestasi pada produk investasi yang memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.
Biasanya, investor ini sudah sangat sedikit menginvestasikan dananya ke perbankan. Umumnya, mereka telah membagi investasinya ke reksadana, asuransi, dan juga sudah mulai berani memulai berinvestasi langsung di saham, bursa komoditi, maupun valas.
·         Pembukaan rekening nasabah
Tidak semua orang bisa menjadi investor, kecuali mereka yang memenuhi persyaratan yang di tentukan oleh perusahaan broker efek. Persyaratan itu ditunjukan untuk melindungi kepentingan investor itu sendiri dan perusahaan broker efek. Setiap nasabah memiliki dua jenis rekening pada broker efek, yaitu : 1. Rekening dana adalah rekening yang memuat tentang keluar masuknya uang nasabah dan saldo uang nasabah setiap saat. Broker yang jujur akan memberikan bunga harian  atas saldo kredit uang nasabah. 2. Rekening efek adalah rekening yang memuat saldo efek milik nasabah yang disimpan di broker efek.
·         Pemesanan dan Menitoring
Banyak cara yang dapat dapat ditempuh oleh nasabah untuk melakukan pesanan jua dan pesanan pembeli adalah :
1.      Nasabah datang langsung ke kantor broker dan memberi order jasa atau beli langsung kepada Wakil Perantara dan Pedagang Efek (WPPE) secara lisan atau tertulis.
2.      Nasabah memberi order jual atau beli lewat telepn maupun surat tertulis.
Apabila order jual atau beli dilakukan secaralisan, maka WPPE wajib merekam pesanan nasabah tersebut dan menyimpan rekaman itu sampai transaksi diselesaikan tanpa personalan.


2.      MEMILIH BROKER EFEK
Jumlah broker efek pada setiap Bursa Efek berbeda-beda. Jumlah broker efek di Bursa Efek Jakara pada akhir tahun 2002 adalah sekitar 185 perusahaan efek. Investor harus memiliki sendiri broker efek sesuai dengan yang di inginkan, yaitu broker efek yang jujur dan dapat memberikan pelayanan berikut :
·         Informasi pelanggan efek
·         Pelayanan informasi mikro dan makro
·         Pelayanan margin weding
·         Produk pelanggan bervariasi
·         Biaya transaksi
·         Pelayanan khusus

3.      MEMILIH SAHAM
Pemilihan jenis saham untuk investasi berkaitan erat dengan tipe invetor. Investor risk taker lebih senang memilih saham yang memiliki return tinggi sekaligus beresiko rendah, atau saham yang memiliki tingkat beta yang tinggi. Beta saham adalah tolak ukur resiko dari suatu jenis saham dibandingkan dengan resiko pasar.

4.      ESTIMASI HARGA SAHAM
Pergerakan harga saham setiap detik selalu dipelajari oleh banyak day trader yang berdagang dengan caara beli pagi hari dan jual di sore hari, atau jual padi hari dan sore hari. Model-model analisis teknis banyak dijumpai serta sudah terprogam dalam komputer informasi yang umumnya disediakan oleh kantor broker efek. Banyak pendekatan yang bisa digunakan, antara lain :


1.      Price Earning Ratio
P = E x R
Dimana :
P = price atau harga estimasi
E = laba per saham estimasi
R = ratio atau multiplier setimasi
Apabila dua unsur telas diketahui, maka satu unsur lainnya dapat dihitung.

Laba per saham (Earning Per Share) membeli saham berarti membeli prospek perusahaan, yang tercemin pada laba per saham.
Laba per saham = laba bersih/jumlah saham
Ratio atau multiplier suatu rasio, atau R yang menyatakan berapa kali EPS modal itu di dapat kembali, dapat dihutung dengan sebagai berikut :
1.      R teoritis
2.      R aktual
Contoh :
Perhitungan Rteoritis
Misalnya dalam melakukan suatu investasi pada perusahaan A, investor amin mengharapkan return 12,5% per tahun, yang dimanamodal akan kembali selama 8 tahun yang berasal dari 100/12,5 = 8. Sedangkan untuk perusahaan B, invertor basuki mengharpkan 20% per tahun, yang dimana akan kembali semala 5 tahun yang berasal dari 100/20 = 5. P.E.R perusahaan A adalah 8, sedangkan perusahaan B adalah 5.
Misalnya laba per saham perusahaan A ada;ah Rp 500. Berapa biaya modal yang dibutuhkan untuk membeli perusahaan A?
P = Rp 500 x 8 = Rp 4000
Uji balik :
Jika modal adalah Rp 4000 dan return = 12,5%, maka laba = 12,5% x Rp4000 = Rp500.
Perhitungan R aktual
R aktual dapat dihitung dengan mudah asalkan dua unsur lainnya sudah diketahui dari rumus P.E.R, yaitu aktual dan laba saham aktual.
R aktual = P aktual/E aktual
Dimana :
R aktual = rasio aktual masa lalu
P aktual = harga aktual masa lali
E aktual = laba per saham masa lalu
Rumus di atas hanya dapat digunakan untuk menghitung R aktual tahunan ketika laporan keuanga yang telah di audit per Desember sudah di terbitkan dan harga saham telah diketahui.
Estimasi harga saham secara harian atau mingguan atau bulanan dapat dilakukan dengan berpedoman pada R aktual tersebut. Bursa efek menerbitka P aktual dalam 3 jenis, yaitu harga terendah,harga tertinggi, dan harga penutupan. Dengan demikian, investor memiliki rentang harga estimasi harga terendah, harga tertinggi dan harga penutupan. Harga estimasi juga bisa dapat didasarkan pada R aktual masalalu karena R teoritis diperkirakan sama dengan R aktual masalalu. Jadi rumus P.E.R adalah :

P teoritis = E teoritis x R aktual
Dimana :
P teoritis = Harga estimasi saham
E teoritis = Laba per saham estimasi
R aktual = Rasio aktual (harian, mingguan, bulanan)
Apabila perkiraan E teoritis disamakan dengan E aktual dan P teoritis disamakan dengan R aktual maka rumus menghitung P.E.R (estimasi harga) adalah :
P teoritis = E aktual x R aktual
Dimana :
P teoritis = harga estimasi saham
E aktual = laba per saham aktual menurut laporan laba rugi terakhir
R aktual = rasio aktual terakhir (harian, mingguan, bulanan) 
2.      P.E.R dan SIKLUS EKONOMI
Dalam siklus ekonomi recovery atau siklus expansion,umumnya angka P.E.R lebih tinggi dari pada siklus recession dan depresion. Dalam siklus ekonomi yang sedang pulih, akan nampak gerakan awal dari kenaikan indeks harga saham gabungan.
Profit talking terjadi karena sebagian investor bertujuan jangka pendek dan sebagailagi tujuan jangka panjang. Investor yang bertujuan jangka pendek akan segera merealisasikan keuntungan walaupun terdapat sedikit saham.

Tabel 1 P.E.R sebelum dan selama resesi ekonomi pada akhir desember




Krisis ekonomi



no
Saham
Sebelum

selama





1996
1997
1998
1999
2000
2001
1
ASSI
26,1
-11,9
-0,96
6,2
-21,0
5,9
2
ISAT
12,9
16,5
9,8
10,1
5,7
6,8
3
TLKM
25,3
23,7
21,6
18,4
8,6
7,6
4
GGRM
29,9
17,8
20,2
14,1
11,2
8,0
5
HMSP
60,1
183,6
-39,0
11,7
68,2
15,1
6
PWON
9,6
-1,7
-0,04
-8,9
-0,11
-0,09
7
TKIM
11,7
5,1
10,1
11,7
-0,99
-1,96
8
INCO
6,6
38,2
61,8
40,4
13,3
73,6


Dalam tabel iatas bahwa pada umumnya P.E.R menurun selama siklus resesi, kecuali kecuali saham INCO.

Tabel 2 P.E.R menjelang recovery
No
Saham
Desember
1996
Desember
2002
Desember
2003
Desember
2004
1
Asii
26,1
3,3
4,9
6,0
2
Isat
12,9
26,8
13,1
13,6
3
Tlkm
25,3
4,9
13,9
13,1
4
Ggrm
29,9
8,0
15,3
12,1
5
Hmsp
60,1
9,6
16,3
11,4
6
Pwon
9,6
0,17
0,63
-2,25
7
Tkim
11,7
-1,2
-2,6
8,0
8
Inco
6,6
6,0
12,7
4,1



Dalam tabel di atas menunjukan bahba P.E.R tahun 2003 dan tahun 2004 umumnya lebih tinggi dari pada tahun 2002, kecuali Isat menurun. P.E.R pada bulan oktober 2004masih jauh lebih rendag dibandingkan tahun 1996.

3.      PRICE BOOK VALUE RATIO
PBV atau Price to Book Value (Rasio Harga terhadap nilai Buku) ini dapat dihitung dengan membagikan Harga per lembar Saham perusahaan yang bersangkutan dengan nilai buku per lembar saham (Book Value per Share). Berikut ini adalah Rumus PBV untuk menghitung rasio Harga Saham terhadap Nilai Buku ini.
RUMUS :
Rasio Harga terhadap Nilai Buku = Harga per lembar saham / Nilai buku per lembar saham
Per tanggal 03 November 2017, Harga per lembar saham PT A adalah sebesar Rp. 2.880,- sedangkan nilai buku per saham atau book value per share adalah sebesar Rp. 1.944,-. Berapakah Rasio PBV atau Rasio Harga terhadap Nilai Buku PT A ?
Diketahui :
Harga per lembar saham = Rp. 2.880,-
Nilai Buku per lembar saham = Rp. 1.944,-
Rasio Harga terhadap Nilai Buku = ??
Jawaban :
Price to Book Value = Harga per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham
Price to Book Value = Rp. 2.880,- / Rp. 1.944,-
Price to Book Value = 1,48 kali
Jadi Price to Book Value atau PBV PT A  adalah sebesar 1,48 kali.
4.      PRICE DIVEDEND RATIO (P.D.R)
Price dividend ratio adalah metode estimasi harga saham yang didasarkan pada variabel dividen tunai dan tingkat resiko. Rumus yang digunakan adalah :
P = D x R
Tabel menjelang recovery
No
Saham
Desember
1996
Desember
2002
Desember
2003
Desember
2004
1
Asii
26,1
3,3
4,9
6,0
2
Isat
12,9
26,8
13,1
13,6
3
Tlkm
25,3
4,9
13,9
13,1
4
Ggrm
29,9
8,0
15,3
12,1
5
Hmsp
60,1
9,6
16,3
11,4
6
Pwon
9,6
0,17
0,63
-2,25
7
Tkim
11,7
-1,2
-2,6
8,0
8
Inco
6,6
6,0
12,7
4,1

Dimana :
P estimasi = dividen tunai x Rasio
Pendekatan P.D.R jarang sekali digunakan dalam praktik karena dividen tunai tidak selalu berarti perusahaan mendapatkan laba. Dividen tunai dapat ditingkatkan walaupun perusahaan sedang menderita kerugian, karena dapat diambil dari sisa laba tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, pendekatan P.D.R dapat menyelesaikan.


5.      DIVIDEND DISCOUNTED MODEL
Dividend discounted model (DDM) merupakan model perhitungan harga saham yang dilakukan dengan cara tunai semua cash flow yang akan di terima dimasa mendatang. Disini di rumuskan sebagai berikut :
V0 = D1 + P1 / 1 + k
Apabila rencana investasi adalah selama 2 tahun, maka rumusnya adalah :
V0 = [(D1 / 1 + k) + (D2  / (1 + k)2) + (P2 / (1 + k)2)]
Sebagai contoh, dividen tunai setiap tahunnya adalah Rp500 dan harga saham sekarang adalah Rp 10.000. pada tahun kedua diperkirakan harga saham di pasar akan menjadi Rp 12.000, sementara return yang diharaplan adalah 8%. Berapa nilai saham sekarang? Apakah investor jadi membeli?

V0 = 500/1,08 + 500/(1,08)2 +12.000/(1,08)2
V0 = 463 + 429 + 10.288 = 11.380
Karena nilai saham lebih tinggi Rp11.180 dari pada harga saham Rp10.000, maka saham tersebut layak dibeli.