Kamis, 31 Januari 2019

Seminar Manajemen Keuangan

 MATERI SEMINAR MANAJEMEN
KEUANGAN





Resiko Dalam Investasi

Resiko dalam ketidakpastian arus kas 

1.      Ketidakpastian arus kas
Kalau kita berbicara tentang masa yang akan datang dan terdapat unsur ketidakpastian, maka kita hanya bisa mengatakan tentang nilai yang diharapkan (expected value). Sedangkan kemungkinan menyimpang dari nilai yang diharapkan diukur dengan deviasi standard. Secara formal kedua parameter tersebut bisa dinyatakan sebagai berikut:

Dalam hal ini E(V) adalah nilai yang diharapkan, Vi adalah nilai pada distribusi ke – i ( i = …n ), dan Pi adalah probabilitas ke – i.
  
Dalam hal ini σ adalah deviasi standar nilai distribusi tersebut.

Misalkan terdapat dua proyek A dan B, yang mumpanyai usia ekonomis hanya satu tahun. Karakteristik arus kas untuk kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut:


Usulan investasi A
Usulan investasi B
Probabilitas
Arus kas
Probabilitas
Arus kas
0,10
Rp. 3.000
0,05
Rp. 3.000
0,20
Rp. 4.000
0,20
Rp. 4.000
0,40
Rp. 5.000
0,50
Rp. 5.000
0,20
Rp. 6.000
0,20
Rp. 6.000
0,10
Rp. 7.000
0,05
Rp. 7.000

Dengan menggunakan kedua rumus diatas dapat dihitung bahwa,

E(VA) = Rp. 5.000
E(VB) = Rp. 5.000

Sedangkan,

σA = 1.095
σB = 894

Dengan demikian resiko investasi A dinilai lebih beresiko dibandingkan investasi B.

Apabila E(V) dari kedua investasi tersebut tidak sama, maka penggunaan σ sebagai indicator resiko menjadi sulit dilakukan. Untuk itu kemudian dipergunakan coefficient of variation, yang merupakan perbandingan antara σ/E(V). Misalkan kita mempunyai informasi sebagai berikut:


C
D
(E)V
1.000
1.500
σ
400
500
Coeff of variation
0,40
0,33

Mereka yang menggunakan coefficient of variation mengatakan bahwa proyek C lebih berisiko dibandingkan dengan D, karena coefficient of variation nya lebih besar.

2.      Operating Risk dan Ketidakpastian Arus Kas

Untuk menjelaskan konsep tersebut, perhatikan contoh berikut ini. Misalkan PT ANNA mempunyai karakteristik biaya dan penghasilan sebagai berikut. Penjualan diperkiraan bisa mencapai 1.000 unit dalam satu tahun. Harga jual Rp. 1.000 per unit. Biaya tetap selama setahun sebesar Rp. 300.000 per unit. Biaya variabel Rp. 500 per unit. Berapa laba operasi yang diharapkan pada penjualan sebesar 1.000 unit ?

Laba operasi    = penghasilan – total biaya
                        = (1.000 x 1.000) – (300.000 + (1.000 x 500 ))
                        = 1.000.000 – 800.000
                        = 200.000

Perusahaan yang lain, PT PARAMITA, juga mengharapkan akan mampu menjual 1.000 unit dalam satu tahun, dengan haraga jual juga 1.000. bedanya adalah bahwa biaya tetap perusahaan tersebut mencapai 500 per tahun., sedangkan biaya variabel 300 per unit. Kalau kita hitung laba operasi pada penjualan sebesar 1.000 unit, maka kita akan memperoleh angka yang sama dengan PT ANNA, yaitu 200.000.

Untuk melihat ketidak pastian arus kas, kita bisa melakukan analisis terhadap laba operasi perusahaan. Misalkan penjualan menurun sebesar 10 %. Apa yang terjadi terhadap laba operasi kedua perusahaan tersebut?

Pengaruh penurunan penjualan terhadap laba operasi

PT ANNA
PT PARAMITA
Penurunan penjualan
10 %
10 %
Penjualan yang baru
900.000
900.000
Biaya-biaya:
Tetap
Variabel
Total
Laba operasi

300.000
450.000
750.000
150.000

500.000
270.000
770.000
130.000
Penurunan laba operasi
25 %
35 %
Perbandingan antara penurunan laba operasi dengan penurunan penjualan (disebut degree of operating leverage)
2,50
3,50

Kita lihat bahwa penurunan laba operasi untuk PT PARAMITA lebih besar dibandingkan dengan PT ANNA. Rasio antara penurunan laba operasi dengan penurunan penjualan disebut sebagai degree of operating leverage (DOL). Dalam contoh kita, DOLparamita > DOLanna. Ini menunjukan bahwa arus kas PT PARAMITA lebih tidak pasti. Secara mudah akan dikatakan bahwa perusahaan yang mempunyai operating leverage yang tinggi akan mempuyai resiko yang tinggi pula. PT PARAMITA mempunyai operating leverage yang tinggi karena proporsi biaya tetap nya lebih besar apabila dibandingkan dengan PT ANNA.

Resiko Proyek

1.      Mengukur Resiko Untuk Arus Kas Independen
Misal suatu investasi sebesar Rp. 11.000 pada tahun ke 0. Diharapkan usia ekonomis investasi tersebut adalah 3 tahun, dengan estimasi arus kas seperti berikut

Investasi
Probabilitas
Arus kas
0,10
Rp. 3.000
0,20
Rp. 4.000
0,40
Rp. 5.000
0,20
Rp. 6.000
0,10
Rp. 7.000

Diasumsikan pola arus kas tersebut independen, apakah proyek tersebut menguntungkan?

Untuk itu perlu dihitung NPV yang diharapkan, standar deviasi dari NPV tersebut. Perhitungan deviasi standar dimaksudkan untuk memeperkirakan resiko proyek tersebut.

Menghitung NPV yang diharapkan

Keterangan:
 adalah arus kas pada waktu ke t
t = 0…n
= tingkat bunga bebas resiko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar