MATERI SEMINAR MANAJEMEN
KEUANGAN
Resiko Dalam Investasi
Resiko dalam ketidakpastian arus kas
1.
Ketidakpastian arus kas
Kalau kita berbicara tentang masa yang akan datang dan terdapat
unsur ketidakpastian, maka kita hanya bisa mengatakan tentang nilai yang
diharapkan (expected value). Sedangkan kemungkinan menyimpang dari nilai yang
diharapkan diukur dengan deviasi standard. Secara formal kedua parameter
tersebut bisa dinyatakan sebagai berikut:
Dalam
hal ini E(V) adalah nilai yang diharapkan, Vi adalah nilai pada
distribusi ke – i ( i = …n ), dan Pi adalah probabilitas ke – i.
Dalam
hal ini σ adalah deviasi standar nilai distribusi
tersebut.
Misalkan
terdapat dua proyek A dan B, yang mumpanyai usia ekonomis hanya satu tahun.
Karakteristik arus kas untuk kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut:
Usulan investasi A
|
Usulan investasi B
|
||
Probabilitas
|
Arus kas
|
Probabilitas
|
Arus kas
|
0,10
|
Rp. 3.000
|
0,05
|
Rp. 3.000
|
0,20
|
Rp. 4.000
|
0,20
|
Rp. 4.000
|
0,40
|
Rp. 5.000
|
0,50
|
Rp. 5.000
|
0,20
|
Rp. 6.000
|
0,20
|
Rp. 6.000
|
0,10
|
Rp. 7.000
|
0,05
|
Rp. 7.000
|
Dengan
menggunakan kedua rumus diatas dapat dihitung bahwa,
E(VA) = Rp.
5.000
E(VB) = Rp.
5.000
Sedangkan,
σA = 1.095
σB = 894
Dengan
demikian resiko investasi A dinilai lebih beresiko dibandingkan investasi B.
Apabila
E(V) dari kedua investasi tersebut tidak sama, maka penggunaan σ sebagai
indicator resiko menjadi sulit dilakukan. Untuk itu kemudian dipergunakan
coefficient of variation, yang merupakan perbandingan antara σ/E(V). Misalkan
kita mempunyai informasi sebagai berikut:
C
|
D
|
|
(E)V
|
1.000
|
1.500
|
σ
|
400
|
500
|
Coeff
of variation
|
0,40
|
0,33
|
Mereka
yang menggunakan coefficient of variation mengatakan bahwa proyek C lebih
berisiko dibandingkan dengan D, karena coefficient of variation nya lebih
besar.
2.
Operating Risk dan Ketidakpastian Arus Kas
Untuk menjelaskan
konsep tersebut, perhatikan contoh berikut ini. Misalkan PT ANNA mempunyai
karakteristik biaya dan penghasilan sebagai berikut. Penjualan diperkiraan bisa
mencapai 1.000 unit dalam satu tahun. Harga jual Rp. 1.000 per unit. Biaya
tetap selama setahun sebesar Rp. 300.000 per unit. Biaya variabel Rp. 500 per
unit. Berapa laba operasi yang diharapkan pada penjualan sebesar 1.000 unit ?
Laba operasi = penghasilan – total biaya
= (1.000 x 1.000) –
(300.000 + (1.000 x 500 ))
= 1.000.000 – 800.000
= 200.000
Perusahaan yang
lain, PT PARAMITA, juga mengharapkan akan mampu menjual 1.000 unit dalam satu
tahun, dengan haraga jual juga 1.000. bedanya adalah bahwa biaya tetap
perusahaan tersebut mencapai 500 per tahun., sedangkan biaya variabel 300 per
unit. Kalau kita hitung laba operasi pada penjualan sebesar 1.000 unit, maka
kita akan memperoleh angka yang sama dengan PT ANNA, yaitu 200.000.
Untuk melihat
ketidak pastian arus kas, kita bisa melakukan analisis terhadap laba operasi
perusahaan. Misalkan penjualan menurun sebesar 10 %. Apa yang terjadi terhadap
laba operasi kedua perusahaan tersebut?
Pengaruh
penurunan penjualan terhadap laba operasi
PT ANNA
|
PT PARAMITA
|
|
Penurunan penjualan
|
10 %
|
10 %
|
Penjualan yang baru
|
900.000
|
900.000
|
Biaya-biaya:
Tetap
Variabel
Total
Laba operasi
|
300.000
450.000
750.000
150.000
|
500.000
270.000
770.000
130.000
|
Penurunan laba operasi
|
25 %
|
35 %
|
Perbandingan antara penurunan laba
operasi dengan penurunan penjualan (disebut degree of operating leverage)
|
2,50
|
3,50
|
Kita lihat bahwa
penurunan laba operasi untuk PT PARAMITA lebih besar dibandingkan dengan PT
ANNA. Rasio antara penurunan laba operasi dengan penurunan penjualan disebut
sebagai degree of operating leverage (DOL). Dalam contoh kita, DOLparamita
> DOLanna. Ini menunjukan bahwa arus kas PT PARAMITA lebih
tidak pasti. Secara mudah akan dikatakan bahwa perusahaan yang mempunyai
operating leverage yang tinggi akan mempuyai resiko yang tinggi pula. PT
PARAMITA mempunyai operating leverage yang tinggi karena proporsi biaya tetap
nya lebih besar apabila dibandingkan dengan PT ANNA.
Resiko Proyek
1.
Mengukur Resiko Untuk Arus Kas Independen
Misal suatu investasi sebesar Rp. 11.000 pada tahun ke 0. Diharapkan
usia ekonomis investasi tersebut adalah 3 tahun, dengan estimasi arus kas seperti
berikut
Investasi
|
|
Probabilitas
|
Arus
kas
|
0,10
|
Rp.
3.000
|
0,20
|
Rp.
4.000
|
0,40
|
Rp.
5.000
|
0,20
|
Rp.
6.000
|
0,10
|
Rp. 7.000
|
Diasumsikan
pola arus kas tersebut independen, apakah proyek tersebut menguntungkan?
Untuk
itu perlu dihitung NPV yang diharapkan, standar deviasi dari NPV tersebut.
Perhitungan deviasi standar dimaksudkan untuk memeperkirakan resiko proyek tersebut.
Menghitung
NPV yang diharapkan
Keterangan:
t = 0…n
Tidak ada komentar:
Posting Komentar