MATERI SEMINAR MANAJEMEN
KEUANGAN
(PENILAIAN SAHAM)
ANALISIS SAHAM
Investor harus memahami beberapa hal apabila ingin memasuki dunia pasar
modal, yaitu : 1. Seluk-beluk berdagang saham, 2. memilih broker, 3. memilih
saham, 4. mengestimasi harga saham.
1. SELUK BELUK BERDAGAM
SAHAM
Seluk beluk bedagang meliputi, tujuan investasi,
diversifikasi keuangan, tipe investor, pembukaan rekening dan rekening efek,
penempatan dan pemantauan order (monitoring)
·
Tujuan investasi
Setiap investor
pastinya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan capital gein, yaitu
selisih positif antara harga juan dan
harga beli saham dan deviden tunai yang diterima dari emiten kepada perusahaan
karena memperoleh keunungan.
·
Diversifikasi keuangan
Investasi saham di
samping mengandung resiko yang besar tetapi juga menawarkan keuntungsn yang
menggiurkan. Invertasi merupakan sarana untuk mencapai kemakmuran bukan
kehancuran, sehingga investor harus pandai mengatur perencanaan keuangannya.
·
Tipe investor
A.
Tidak senang
risiko (risk averse).
Investor jenis ini
adalah investor yang
tidak senang terhadap risiko. Tentunya, ia memiliki konsekuensi tidak dapat
mengharapkan tingkat return yang terlalu tinggi juga. Investor jenis ini
biasanya sangat mengutamakan tingkat keamanan investasinya dibandingkan dengan
tingkat return yang ditawarkan oleh suatu produk investasi.
Biasanya investor ini masih
nienggunakan perbankan sebagai sarana investasi mereka
atau investasi di
SBI atau obligasi pemerintah.
B.
Netral terhadap
risiko (risk neutral).
Investor jenis ini
adalah investor yang
cukup menerima adanya risiko, tetapi tidak akan mau mengambil risiko lebih
untuk mencoba mendapatkan tingkat return yang lebih tinggi.
Tingkat return yang mereka harapkan biasanya lebih tinggi
daripada investor yang risk
averse, dan tentunya mereka juga telah memiliki risiko minimal yang
dapat diterima.
Biasanya, investor ini selain di
perbankan juga sudah berani bermain di jenis investasi reksadana;
pasar uang; jenis asuransi
yang aman, seperti asuransi jiwa, kesehatan, dan umum; maupun obligasi
perusahaan pemerintah.
C.
Menyukai risiko (risk seeker).
Investor jenis ini
biasanya telah mengerti bahwa return yang tinggi akan
diikuti dengan tingkat risiko yang tinggi pula. Mereka sudah berani mencoba
mengambil kesempatan dan juga berinvestasi pada produk investasi yang memiliki
tingkat risiko yang relatif tinggi.
Biasanya, investor ini sudah sangat
sedikit menginvestasikan dananya ke perbankan. Umumnya, mereka telah membagi
investasinya ke reksadana, asuransi, dan juga sudah mulai berani memulai
berinvestasi langsung di saham, bursa komoditi, maupun valas.
·
Pembukaan rekening nasabah
Tidak semua orang
bisa menjadi investor, kecuali mereka yang memenuhi persyaratan yang di
tentukan oleh perusahaan broker efek. Persyaratan itu ditunjukan untuk
melindungi kepentingan investor itu sendiri dan perusahaan broker efek. Setiap
nasabah memiliki dua jenis rekening pada broker efek, yaitu : 1. Rekening dana
adalah rekening yang memuat tentang keluar masuknya uang nasabah dan saldo uang
nasabah setiap saat. Broker yang jujur akan memberikan bunga harian atas saldo kredit uang nasabah. 2. Rekening
efek adalah rekening yang memuat saldo efek milik nasabah yang disimpan di
broker efek.
·
Pemesanan dan Menitoring
Banyak cara yang
dapat dapat ditempuh oleh nasabah untuk melakukan pesanan jua dan pesanan
pembeli adalah :
1. Nasabah datang
langsung ke kantor broker dan memberi order jasa atau beli langsung kepada
Wakil Perantara dan Pedagang Efek (WPPE) secara lisan atau tertulis.
2. Nasabah memberi order
jual atau beli lewat telepn maupun surat tertulis.
Apabila order jual atau beli dilakukan secaralisan, maka WPPE
wajib merekam pesanan nasabah tersebut dan menyimpan rekaman itu sampai
transaksi diselesaikan tanpa personalan.
2. MEMILIH BROKER EFEK
Jumlah broker efek pada setiap Bursa Efek berbeda-beda.
Jumlah broker efek di Bursa Efek Jakara pada akhir tahun 2002 adalah sekitar
185 perusahaan efek. Investor harus memiliki sendiri broker efek sesuai dengan
yang di inginkan, yaitu broker efek yang jujur dan dapat memberikan pelayanan
berikut :
·
Informasi pelanggan efek
·
Pelayanan informasi mikro dan makro
·
Pelayanan margin weding
·
Produk pelanggan bervariasi
·
Biaya transaksi
·
Pelayanan khusus
3. MEMILIH SAHAM
Pemilihan jenis saham untuk investasi berkaitan erat dengan
tipe invetor. Investor risk taker lebih senang memilih saham yang memiliki return
tinggi sekaligus beresiko rendah, atau saham yang memiliki tingkat beta yang
tinggi. Beta saham adalah tolak ukur resiko dari suatu jenis saham dibandingkan
dengan resiko pasar.
4. ESTIMASI HARGA SAHAM
Pergerakan harga saham setiap detik selalu dipelajari oleh
banyak day trader yang berdagang dengan caara beli pagi hari dan jual di sore
hari, atau jual padi hari dan sore hari. Model-model analisis teknis banyak
dijumpai serta sudah terprogam dalam komputer informasi yang umumnya disediakan
oleh kantor broker efek. Banyak pendekatan yang bisa digunakan, antara lain :
1. Price Earning Ratio
P = E x R
Dimana :
P = price atau harga
estimasi
E = laba per saham
estimasi
R = ratio atau
multiplier setimasi
Apabila dua unsur
telas diketahui, maka satu unsur lainnya dapat dihitung.
Laba per saham
(Earning Per Share) membeli saham berarti membeli prospek perusahaan, yang
tercemin pada laba per saham.
Laba per saham = laba bersih/jumlah
saham
Ratio atau multiplier
suatu rasio, atau R yang menyatakan berapa kali EPS modal itu di dapat kembali,
dapat dihutung dengan sebagai berikut :
1. R teoritis
2. R aktual
Contoh :
Perhitungan Rteoritis
Misalnya dalam melakukan suatu investasi pada perusahaan A,
investor amin mengharapkan return 12,5% per tahun, yang dimanamodal akan
kembali selama 8 tahun yang berasal dari 100/12,5 = 8. Sedangkan untuk
perusahaan B, invertor basuki mengharpkan 20% per tahun, yang dimana akan
kembali semala 5 tahun yang berasal dari 100/20 = 5. P.E.R perusahaan A adalah
8, sedangkan perusahaan B adalah 5.
Misalnya laba per saham perusahaan A ada;ah Rp 500. Berapa
biaya modal yang dibutuhkan untuk membeli perusahaan A?
P = Rp 500 x 8 = Rp 4000
Uji balik :
Jika modal adalah Rp 4000 dan return = 12,5%, maka laba =
12,5% x Rp4000 = Rp500.
Perhitungan R aktual
R aktual dapat dihitung dengan mudah asalkan dua unsur
lainnya sudah diketahui dari rumus P.E.R, yaitu aktual dan laba saham aktual.
R aktual = P aktual/E aktual
Dimana :
R aktual = rasio
aktual masa lalu
P aktual = harga
aktual masa lali
E aktual = laba per
saham masa lalu
Rumus di atas hanya dapat digunakan untuk menghitung R aktual
tahunan ketika laporan keuanga yang telah di audit per Desember sudah di
terbitkan dan harga saham telah diketahui.
Estimasi harga saham secara harian atau mingguan atau bulanan
dapat dilakukan dengan berpedoman pada R aktual tersebut. Bursa efek menerbitka
P aktual dalam 3 jenis, yaitu harga terendah,harga tertinggi, dan harga
penutupan. Dengan demikian, investor memiliki rentang harga estimasi harga
terendah, harga tertinggi dan harga penutupan. Harga estimasi juga bisa dapat
didasarkan pada R aktual masalalu karena R teoritis diperkirakan sama dengan R
aktual masalalu. Jadi rumus P.E.R adalah :
P teoritis = E teoritis x R aktual
Dimana :
P teoritis = Harga estimasi saham
E teoritis = Laba per saham estimasi
R aktual = Rasio aktual (harian, mingguan, bulanan)
Apabila perkiraan E teoritis disamakan dengan E aktual dan P
teoritis disamakan dengan R aktual maka rumus menghitung P.E.R (estimasi harga)
adalah :
P teoritis = E aktual x R aktual
Dimana :
P teoritis = harga
estimasi saham
E aktual = laba per
saham aktual menurut laporan laba rugi terakhir
R aktual = rasio
aktual terakhir (harian, mingguan, bulanan)
2. P.E.R dan SIKLUS
EKONOMI
Dalam siklus ekonomi
recovery atau siklus expansion,umumnya angka P.E.R lebih tinggi dari pada
siklus recession dan depresion. Dalam siklus ekonomi yang sedang pulih, akan
nampak gerakan awal dari kenaikan indeks harga saham gabungan.
Profit talking
terjadi karena sebagian investor bertujuan jangka pendek dan sebagailagi tujuan
jangka panjang. Investor yang bertujuan jangka pendek akan segera
merealisasikan keuntungan walaupun terdapat sedikit saham.
Tabel 1 P.E.R sebelum
dan selama resesi ekonomi pada akhir desember
Krisis ekonomi
|
|||||||
no
|
Saham
|
Sebelum
|
selama
|
||||
1996
|
1997
|
1998
|
1999
|
2000
|
2001
|
||
1
|
ASSI
|
26,1
|
-11,9
|
-0,96
|
6,2
|
-21,0
|
5,9
|
2
|
ISAT
|
12,9
|
16,5
|
9,8
|
10,1
|
5,7
|
6,8
|
3
|
TLKM
|
25,3
|
23,7
|
21,6
|
18,4
|
8,6
|
7,6
|
4
|
GGRM
|
29,9
|
17,8
|
20,2
|
14,1
|
11,2
|
8,0
|
5
|
HMSP
|
60,1
|
183,6
|
-39,0
|
11,7
|
68,2
|
15,1
|
6
|
PWON
|
9,6
|
-1,7
|
-0,04
|
-8,9
|
-0,11
|
-0,09
|
7
|
TKIM
|
11,7
|
5,1
|
10,1
|
11,7
|
-0,99
|
-1,96
|
8
|
INCO
|
6,6
|
38,2
|
61,8
|
40,4
|
13,3
|
73,6
|
Dalam tabel iatas bahwa pada umumnya
P.E.R menurun selama siklus resesi, kecuali kecuali saham INCO.
Tabel 2 P.E.R
menjelang recovery
No
|
Saham
|
Desember
1996
|
Desember
2002
|
Desember
2003
|
Desember
2004
|
1
|
Asii
|
26,1
|
3,3
|
4,9
|
6,0
|
2
|
Isat
|
12,9
|
26,8
|
13,1
|
13,6
|
3
|
Tlkm
|
25,3
|
4,9
|
13,9
|
13,1
|
4
|
Ggrm
|
29,9
|
8,0
|
15,3
|
12,1
|
5
|
Hmsp
|
60,1
|
9,6
|
16,3
|
11,4
|
6
|
Pwon
|
9,6
|
0,17
|
0,63
|
-2,25
|
7
|
Tkim
|
11,7
|
-1,2
|
-2,6
|
8,0
|
8
|
Inco
|
6,6
|
6,0
|
12,7
|
4,1
|
Dalam tabel di atas menunjukan bahba P.E.R tahun 2003 dan tahun 2004
umumnya lebih tinggi dari pada tahun 2002, kecuali Isat menurun. P.E.R pada
bulan oktober 2004masih jauh lebih rendag dibandingkan tahun 1996.
3. PRICE BOOK VALUE
RATIO
PBV atau Price to Book Value
(Rasio Harga terhadap nilai Buku) ini dapat dihitung dengan membagikan Harga
per lembar Saham perusahaan yang bersangkutan dengan nilai buku per lembar
saham (Book Value per Share). Berikut ini adalah Rumus PBV untuk menghitung rasio
Harga Saham terhadap Nilai Buku ini.
RUMUS :
Rasio Harga terhadap Nilai Buku = Harga per
lembar saham / Nilai buku per lembar saham
Per tanggal 03 November 2017, Harga per
lembar saham PT A adalah sebesar Rp. 2.880,- sedangkan nilai buku per saham
atau book value per share adalah sebesar Rp. 1.944,-. Berapakah Rasio PBV atau
Rasio Harga terhadap Nilai Buku PT A ?
Diketahui :
Harga per lembar saham =
Rp. 2.880,-
Nilai Buku per lembar saham = Rp. 1.944,-
Rasio Harga terhadap Nilai Buku = ??
Nilai Buku per lembar saham = Rp. 1.944,-
Rasio Harga terhadap Nilai Buku = ??
Jawaban :
Price to Book Value = Harga
per Lembar Saham / Nilai Buku per lembar Saham
Price to Book Value = Rp. 2.880,- / Rp. 1.944,-
Price to Book Value = 1,48 kali
Price to Book Value = Rp. 2.880,- / Rp. 1.944,-
Price to Book Value = 1,48 kali
Jadi Price to Book Value
atau PBV PT A adalah sebesar 1,48 kali.
4.
PRICE DIVEDEND RATIO (P.D.R)
Price dividend ratio adalah
metode estimasi harga saham yang didasarkan pada variabel dividen tunai dan
tingkat resiko. Rumus yang digunakan adalah :
P = D x R
Tabel menjelang
recovery
No
|
Saham
|
Desember
1996
|
Desember
2002
|
Desember
2003
|
Desember
2004
|
1
|
Asii
|
26,1
|
3,3
|
4,9
|
6,0
|
2
|
Isat
|
12,9
|
26,8
|
13,1
|
13,6
|
3
|
Tlkm
|
25,3
|
4,9
|
13,9
|
13,1
|
4
|
Ggrm
|
29,9
|
8,0
|
15,3
|
12,1
|
5
|
Hmsp
|
60,1
|
9,6
|
16,3
|
11,4
|
6
|
Pwon
|
9,6
|
0,17
|
0,63
|
-2,25
|
7
|
Tkim
|
11,7
|
-1,2
|
-2,6
|
8,0
|
8
|
Inco
|
6,6
|
6,0
|
12,7
|
4,1
|
Dimana :
P estimasi = dividen tunai x
Rasio
Pendekatan P.D.R jarang sekali
digunakan dalam praktik karena dividen tunai tidak selalu berarti perusahaan
mendapatkan laba. Dividen tunai dapat ditingkatkan walaupun perusahaan sedang
menderita kerugian, karena dapat diambil dari sisa laba tahun-tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, pendekatan P.D.R dapat menyelesaikan.
5.
DIVIDEND DISCOUNTED MODEL
Dividend discounted model (DDM)
merupakan model perhitungan harga saham yang dilakukan dengan cara tunai semua
cash flow yang akan di terima dimasa mendatang. Disini di rumuskan sebagai
berikut :
V0 = D1 + P1 / 1
+ k
Apabila rencana investasi
adalah selama 2 tahun, maka rumusnya adalah :
V0 = [(D1 / 1 + k) + (D2
/ (1 + k)2) + (P2
/ (1 + k)2)]
Sebagai contoh, dividen tunai
setiap tahunnya adalah Rp500 dan harga saham sekarang adalah Rp 10.000. pada
tahun kedua diperkirakan harga saham di pasar akan menjadi Rp 12.000, sementara
return yang diharaplan adalah 8%. Berapa nilai saham sekarang? Apakah investor
jadi membeli?
V0 = 500/1,08 + 500/(1,08)2 +12.000/(1,08)2
V0 = 463 + 429 + 10.288 = 11.380
Karena nilai saham
lebih tinggi Rp11.180 dari pada harga saham Rp10.000, maka saham tersebut layak
dibeli.